Senja itu aku berencana habiskan waktu untuk berburu rezeki. Momentumnya pas. Aku di balik etalaseku dan mereka yang berlalu lalang mencari-cari kudapan untuk melegakan tenggorokannya yang kering dan perutnya yang keroncongan karena ibadah hari ini.
Tak henti-henti kusematkan senyumku pada tiap mereka yang singgah menunjuk-nunjuk etalaseku. Sesekali ada beberapa yang memuji kudapan buatan Ibu. Beberapa langgananpun kembali dan seperti biasa, tinggal mengucap saja kebiasaan pesanan mereka dan semua akan tersaji dengan cepatnya.
Aku menghitung sisa sajian di etalaseku, saat itu jam sudah menunjuk pukul 17:20, berarti kurang lebih 30 menit dari sekarang seruan kemenangan akan berkumandang. "Habis engga ya?" tanyaku pada diri sendiri. Masih ada sekitar 10 gelas kolak dan beberapa gorengan. Kutatap mantap semua dagangan dan berucap "pasti habis.. bismillah" hanya itu ucapku. Seolah aku yakin bahwa Dia akan berikan jawaban terbaik untukku.
Sekitar pukul 17:35 langit senja mulai berubah menggelap. Semakin lelah nampaknya matahari hingga ia berpamitan dengan cepatnya. Aku duduk, menunggu. Tak lama seorang pria paruh baya duduk di sebrangku. Tidak menatapku, namun duduk menyampingiku. Ia menatap jalan raya. Duduk diam entah apa yang ia fikirkan saat itu. Kulihat wajah lelahnya, aku senyum dan menganalisa bahwa ia tengah duduk untuk mengistirahatkan dirinya. Entah mengapa, seolah salah satu kudapanku memang miliknya, kuraih satu dan kuberikan padanya. "Ini pak, untuk berbuka puasa" ucapku dengan senyum semanis kubisa. Ia menatapku, kudengar pelan suaranya "alhamdulillah. Terima kasih teh.." seraya menerima bungkusan itu. Lega. Hanya itu rasa hatiku. Rasanya seperti aku menuntaskan misi rahasia saat itu.
Aku pun kembali duduk di balik etalase. Menunggu. Jam menunjukkan pukul 17:37 saat itu, "bismillah.. pasti habis" ucapku sembari tersenyum menatap kudapan-kudapanku yang masih berjejer manis di etalase. Tak hitung 2-3 menit, kalimatku seolah menggema di semesta. Para pelanggan datang! Secara ajaib mereka memesan dengan jumlah yang beraneka ragam. Membuatku sedikit kewalahan untuk melayani 1-1. "aku harus cepat!" hanya itu yang bergema dalam otakku. Hingga pada akhirnya seruan kemenangan berkumandang. Tersisa 4 gelas kolak manis di etalaseku. Lagi-lagi aku sok tahu.."jika memang rezekiku habis, pasti habis. Bismillah" hanya itu diskusi terakhirku pada batin. Hingga hal luar biasa terakhir terjadi, dimana pada saat orang-orang sibuk berbuka, datang seorang pria mendekati etalaseku. "ini kolak bukan ya?" tanyanya padaku, "iya pak.." jawabku sembari senyum dan berdiri untuk memudahkan menatap wajahnya. "oh.. saya beli". Tadinya kukira hanya 1, tak apalah. Lumayan. 1 juga rezeki. Kubungkus 1 gelas kolak itu. Lalu ia melanjutkan "mbak saya beli semua". Secara otomatis senyumku makin merekah bagai bolu kebanyakan pengembang. "Siap pak!". Ku percepat performa membungkusku. Tak hentinya aku bersenandung dalam hati "alhamdulillah.. alhamdulillah yaAllah". Hatiku tak karuan bahagianya. Bukan karena habisnya segala sajian di etalaseku, tapi karena percayaku diberikan jawaban terbaiknya. Bahkan sangat baik. Di detik-detik akhir, bahkan di waktu yang logikanya adalah masa orang-orang untuk duduk sejenak dan menuntaskan ibadahnya.
Ya.. tak salah sudah aku mempercayainya..
Tak salah sudah jawaban terbaik darinya. Meskipun dalam hati sedikit aku bertanya-tanya, apakah ini mutlak karena rasa percayaku? atau berkah lainnya? entahlah.. yang jelas, Dia Maha Tahu segalanya..
#koperindu
Kamis, 16 Mei 2019
-Tentang Aku yang MempercayaiNya-
Diposting oleh #koperindu 0 komentar
Langganan:
Komentar (Atom)